Dokter spesialis penyakit, dr DC Wulandari, SpPD, menuturkan,
dislipidemia memang bisa disembuhkan melalui tindakan farmakologis
(obat-obatan). Dislipidemia adalah peningkatan fraksi lemak di dalam
darah berupa hiperkolesterol,hipertrigliserida dan LDL meningkat dan HDL
menurun.
LDL berperan membawa kolesterol ke pembuluh darah.
Sehingga kadar kolesterol meningkat dan menimbunnya di pembuluh darah,
Oleh karena itu disebut juga kolesterol jahat.
Kadar LDL : 150 – 190 mg %
HDL
berperan membawa kolesterol dari jaringan ke sel hati untuk diolah
menjadi empedu. Oleh karena itu HDL disebut kolesterol baik, mengandung
sedikit kolesterol.
Kadar HDL : 35-55 mg %
Menurut Dokter Wulandari pengobatan non-farmakologis juga dibutuhkan bagi mereka pengidap dislipidemia.
"Kalau
mau hasil yang maksimal, displidemia sebaiknya tidak disembuhkan dengan
jalan pemberian obat saja. Tindakan non-farmakologis juga penting,
yaitu dengan cara terapi nutrisi serta olahraga," paparnya.
Tindakan yang digolongkan non-farmakologis ini juga meliputi pengaturan pola makan serta olahraga rutin.
Pola
makan yang disarankan adalah mengurangi asupan lemak total dan lemak
jenuh yang banyak terdapat pada mentega, susu, krim, es krim, keju,
lemak sapi, babi, kambing, unggas.
"Sebaliknya, disarankan memilih
asupan makanan yang mengandung lemak tidak jenuh seperti kacang tanah,
minyak zaitun, minyak kedelai, minyak jagung, ikan yang mengandung asam
lemak omega 3. Hindari alkohol dan karbohidrat terlalu banyak. Perbanyak
asupan serat yang bersumber dari sayur maupun buah," ujarnya.
Sedangkan
untuk olahraga disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan penderita dan
dilakukan secara kontinyu atau berkesinambungan. Selain olahraga,
aktivitas fisik sehari-hari bermanfaat untuk pasien.
Seperti jalan
kaki, mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sebut Wulan, penelitian
membuktikan bahwa aktivitas atau olahraga yang teratur dapat menurunkan
kadar kol-LDL dan TG, meningkatkan kadar kol-HDL, menurunkan berat
badan, meningkatkan kebugaran.
Terapi farmakologi berupa obat
penurun lipid (obat hipolipidemik) saat ini yang digunakan, yaitu
golongan statin (HMG-Co A reductase inhibitor), resin (bile acid
sequesterant), fibrat, asam nikotinat dan ezetimibe.
Masing-masing
obat mempunyai efek yang berbeda terhadap kadar lipid plasma. Sesuai
dengan kemampuan tiap jenis obat maka obat yang dipilihkan oleh dokter
bergantung pada jenis dislipidemia yang ditemukan.
Pada
dislipidemia berat ataupun campuran bisa diberikan kombinasi obat.
Pemantauan efek samping obat harus dilakukan, terutama pada penderita
dengan gangguan fungsi ginjal atau hati.
Mengingat demikian
seriusnya akibat yang bisa ditimbulkan karena dislipidemia, maka bagi
mereka yang mempunyai penyakit kolesterol tinggi, Wulan menyarankan
untuk berkonsultasi ke dokter supaya mendapat penanganan agar dapat
menurunkan risiko untuk terkena penyakit jantung, stroke maupun
perlemakan hati.
sumber : http://www.tribunnews.com/kesehatan/2015/01/11/hindari-kolesterol-rutin-olahraga-dan-perbanyak-makan-sayur-dan-buah